
PANDI Luncurkan IDADX: Perkuat Benteng Keamanan Ruang Digital Indonesia
Perkumpulan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) meluncurkan Indonesian Digital Anti-Abuse X-Platform (...
09 Juli 2026Di tengah gempuran inovasi kecerdasan buatan, ironisnya masih banyak komunitas yang terjerat dalam jurang kesenjangan digital. Seorang peneliti senior dari Universitas Indonesia membawa isu krusial ini ke forum global saat menjadi dosen tamu di salah satu kampus terkemuka di China.

Jakarta – Era kecerdasan buatan (AI) telah membawa gelombang transformasi masif yang merambah hampir setiap lini kehidupan, mulai dari sektor industri, pendidikan, hingga layanan publik. Namun, di balik narasi kemajuan yang serba canggih, tersembunyi sebuah paradoks krusial: ketimpangan akses digital yang masih sangat nyata. Isu vital ini menjadi sorotan utama seorang peneliti senior dari Pusat Penelitian Asia Universitas Indonesia (UI) yang baru-baru ini diundang sebagai dosen tamu di sebuah kampus terkemuka di China.
Diskusi yang berlangsung di kancah internasional tersebut menyoroti bagaimana kemajuan pesat AI justru berpotensi memperlebar jurang pemisah antara mereka yang memiliki akses ke teknologi dan inovasi, dengan mereka yang masih kesulitan bahkan untuk sekadar terhubung ke internet. Peneliti UI tersebut memaparkan temuan yang mengkhawatirkan: masih banyak komunitas, khususnya di daerah-daerah tertentu, yang menghadapi rintangan signifikan dalam mengakses infrastruktur digital dasar, apalagi memanfaatkan potensi penuh dari teknologi AI.
Kesenjangan digital, atau digital divide, bukan sekadar masalah ketiadaan akses internet. Ini adalah isu multi-dimensi yang mencakup ketersediaan infrastruktur, keterjangkauan biaya, literasi digital, relevansi konten, hingga kesiapan ekosistem pendukung. Di era AI, kompleksitas masalah ini meningkat berkali-kali lipat. Untuk dapat berpartisipasi dan mengambil manfaat dari ekonomi dan masyarakat berbasis AI, seseorang atau komunitas tidak hanya membutuhkan koneksi internet yang stabil, tetapi juga perangkat yang memadai, keterampilan digital yang mumpuni, serta pemahaman tentang cara berinteraksi dengan sistem cerdas.
Observasi yang disampaikan oleh peneliti UI tersebut menggarisbawahi bahwa meskipun algoritma AI mampu melakukan hal-hal luar biasa, seperti diagnosis medis, optimalisasi rantai pasok, atau personalisasi pembelajaran, manfaatnya akan terbatas jika hanya dinikmati oleh segelintir orang. Komunitas yang disebutkan sulit mengakses internet tersebut seringkali berada di wilayah geografis yang terpencil, memiliki keterbatasan ekonomi, atau minimnya investasi pada infrastruktur telekomunikasi. Akibatnya, mereka terancam tertinggal jauh dalam perlombaan inovasi global, bahkan untuk sekadar mengejar ketertinggalan dasar.
Perkembangan AI yang pesat memang menjanjikan banyak solusi untuk berbagai masalah global. Namun, jika tidak diiringi dengan upaya pemerataan akses dan literasi digital, AI justru dapat memperparah ketimpangan yang sudah ada. Bayangkan sebuah sistem pendidikan berbasis AI yang menawarkan pembelajaran adaptif dan personal; sistem ini akan sia-sia bagi siswa yang tidak memiliki akses ke internet atau perangkat untuk menggunakannya. Demikian pula dengan layanan kesehatan berbasis AI yang bisa mendiagnosis penyakit lebih cepat; inovasi ini tidak akan menjangkau masyarakat di daerah terpencil tanpa koneksi internet yang handal.
Peneliti UI menggarisbawahi pentingnya melihat AI sebagai alat, bukan tujuan akhir. Alat ini harus digunakan secara inklusif dan etis untuk menjembatani kesenjangan, bukan malah memperlebar. Diskusi di China tersebut menjadi platform penting untuk menyuarakan perspektif dari negara berkembang, yang seringkali merasakan langsung dampak nyata dari ketimpangan ini. Ini adalah pengingat bahwa inovasi teknologi harus selalu diimbangi dengan kebijakan yang berpihak pada pemerataan dan keadilan sosial.
Mengatasi kesenjangan digital di era AI bukanlah tugas mudah, namun bukan pula hal yang mustahil. Diperlukan pendekatan multi-sektoral dan kolaboratif dari berbagai pihak, baik pemerintah, sektor swasta, akademisi, maupun masyarakat sipil. Beberapa strategi kunci yang dapat ditempuh antara lain:
Pentingnya peran akademisi seperti peneliti UI ini tidak bisa diremehkan. Dengan melakukan penelitian mendalam dan menyuarakan temuan di forum-forum internasional, mereka membantu menyadarkan dunia akan urgensi masalah ini dan mendorong lahirnya solusi yang lebih komprehensif dan berdampak. Perspektif dari lapangan sangat krusial untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi benar-benar melayani seluruh umat manusia, bukan hanya sebagian kecil elit digital.
Perjalanan menuju inklusi digital di era AI masih panjang dan penuh tantangan. Namun, dengan kesadaran yang meningkat dan upaya kolaboratif yang terarah, harapan untuk menciptakan masa depan di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan mengambil manfaat dari revolusi AI menjadi lebih nyata. Diskusi seperti yang dipimpin oleh peneliti UI di China ini merupakan langkah awal yang penting, mengingatkan kita bahwa inovasi harus selalu berjalan beriringan dengan keadilan dan pemerataan.
Isu kesenjangan digital yang dibahas oleh peneliti senior Universitas Indonesia saat menjadi dosen tamu di China ini telah dilaporkan oleh detikcom, menggarisbawahi urgensi permasalahan akses internet di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI.
Informasi artikel merujuk pada detikcom.
Konten dapat diperbarui ketika tersedia informasi, versi teknologi, atau kebijakan baru yang relevan.